Hidupku dari dulu sulit. Tidak. Bukan sulit ekonomi. Tapi bisa jadi juga iya. Entah sejak duduk di bangku sekolah kelas berapa aku mulai menatap iri temanku yang mampu-tidak segan untuk meminta segalanya kepada orangtuanya dan bercerita kecewa Ketika keinginannya tidak terkabul.
Umurku 10 tahun ketika Kami jadi tidak lengkap. Sebagian yang hilang itu tanpa kusadari selalu terbawa pada diriku. Umur 12 tahun, 16 tahun, 19, puncaknya di 26. Hari ini.
Aku selalu punya impian untuk menjalani hari tidak lagi sendirian. Walaupun aku selalu bangga karena aku terbiasa. Terkadang aku menertawakan beberapa temanku yang mengeluh bahwa mereka tidak bisa sekalipun pergi ke suatu tempat seorang diri. Melihat itu, aku selalu berbisik dalam hati, “payah”.
Kelas tiga dulu, pernah suatu hari Ibuku tiba-tiba tidak bisa mengantarku ke sekolah. Halnya apa, aku lupa. Aku yang kedapatan jam masuk siang saat itu berbunga-bunga karena akhirnya bisa berangkat sekolah sendirian, bahkan aku berjalan sambil terkadang lompat keriangan sambil bersenandung. Di atas jalan aspal yang banyak ditumpahi batu dari jajaran rel kereta di sampingnya.
Aku tidak tahu bahwa sendirian yang pertama kali itu kadang menjadi suatu penyesalan kalau aku pernah sebahagia itu berjalan sendiri.
2005.
Kalau tidak salah pukul empat, ia mengenakan jaket kulit coklatnya dan bicara padaku “hayu naik motor, teteh pengen kemana?”. Aku saat itu sedang terkesima pada sebuah rental video yang biasa dikunjungi kakakku untuk menyewa VCD, entah itu film, atau music. Aku pernah menemukan dua keping CD yang menarik. Di labelnya ada gambar manga berupa bayi laki-laki, seorang remaja perempuan dan remaja laki-laki, dengan tulisan Ufo Baby episode 1 dan 2. Sengaja aku putar dalam player hitam di bawah tivi yang ia pernah belikan. Sampai episode 2 habis aku duduk di depan tivi. ‘pingin nonton lagi’ pikirku begitu. Maka Kembali Ketika ia menggunakan jaket kulit coklatnya dan bicara kepadaku, aku tertuju pada mal kecil tempat video rental itu berada.
Ia memarkirkan motor maticnya di depan mal waktu itu. Motor matic yang belum banyak orang punya seperti sekarang. Kami masuk ke mal dan aku menuntunnya ke tempat rental video. Kucari keping CD yang bergambar sama, namun tak kutemukan. Aku bilang padanya, “gak ada Pap”. Ia lalu bertanya kepada penjaga rental, dan memberitahuku kalau CD itu sedang dipinjam. Ketika kutemukan raknya, kulihat hanya CD episode 7. Episode 1 dan 2 ada di rumah.
Tak menemukan yang kucari, ia mengajakku ke minimarket dalam mal yang ada di sebelah rental video. “Beli apa aja, terserah mau apa”. Antusias aku berkeliling minimarket, sampai susu bubuk ukuran 500 gram pun ku ambil. Ia tidak protes, berbeda kalau ketika aku belanja dengan Ibu. “asyik akhirnya bisa cobain susu ini juga” kataku dalam hati, karena merk susu itu adalah yang terbaru dan gambar kotaknya lucu. Gambar tengkorak.
Sepulang dari minimarket, kami menggunakan motor matic yang sama. Menyebrangi palang pintu rel kereta lalu belok kiri. Dekat palang pintu kereta banyak ibu-ibu. Mereka menyapa “hey! Habis belanja ya?”. Kuingat-ingat saat itu ia tidak membalas, hanya tersenyum dan terdengar suara kecil tertawanya. Sampai rumah Ibuku heboh melihat apa yang kami bawa. Ibu membantuku menyimpan barang belanjaan di tempat biasanya. Buru-buru kusimpan susu bubuk dengan box biru yang barusan kubeli di dalam cabinet bagian atas. Biar tidak ketahuan kakak.
Malam sekitar jam 8.30 atau lewat, aku mendapatinya terlungkup di atas karpet. Di atas tubuhnya ada kakakku yang sambil berpegang pada tembok, menginjakkan telapak kaki pada punggungnya. Seingatku saat itu aku minta gantian pada kakakku. Lalu ia meledek, ‘aduh! Berat!’. Aku mengantuk, berjalan ke Kasur dan tak lama aku tertidur.
Begitu pulas sampai azan subuh telah lewat beberapa waktu, aku dibangunkan oleh kakak. “Eh, ayo solat subuh.”. Sejak kecil aku bukan orang yang suka menunda, sehingga langsung ku bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. ‘kok sepi’. Tersadar aku mendapati Ia dan Ibu tidak ada. Kutanya kakakku yang nomor dua kemana mereka. “Ke rumah sakit” katanya. “siapa yang sakit?”. “Papap” balasnya lagi. Itu adalah kali pertama aku mendengar salah seorang dari keluargaku pergi ke rumah sakit, tapi tak kuhiraukan. Kuambil wudu dan kulaksanakan sholat subuh seperti biasa. Yang tidak biasa adalah, Ketika salah satu mataku meneteskan air. Aku lupa yang kiri atau kanan. Sempat aku bergumam Ketika air mataku jatuh, ‘hmm?’. Tak lama kuselesaikan solatku dan Kembali tidur karena hari itu aku kebagian masuk sekolah siang.
Pukul 08.00
Lagi-lagi tidurku disanggah oleh Kakakku yang nomor satu (maksudnya yang lahir duluan, bukan yang terbaik). “Hey bangun, ayo kita ke rumah nenek”. Kakak menyuruhku menyikat gigi dan cuci muka. “ga usah ganti baju, gapapa”. Kami lalu jalan berdua ke rumah nenek yang jaraknya cuma sekitar 200 meter dari rumah. Baru sampai 50 meter, nenekku tiba-tiba mengagetkanku karena nenek ternyata ada di rumah bibi. Aku ingat sekali raut wajahnya, gelisah. Matanya berkaca-kaca, pakaiannya tidak rapi. Kakakku menggandeng tanganku saat nenek bertanya “Papap meninggalnya beneran A?”
Tangan yang menggandengku saat itu jadi mendekap tubuhku. Tangan satunya menutup wajahnya, kudengar tangisnya pecah. Saat itu pula aku benar-benar terbangun dari tidur dan mengikutinya menangis. Setelah itu, bahkan sampai saat ini, aku lupa kejadian selanjutnya seperti apa.
Ingat keping CD yang berjudul Ufo Baby? Sampai hari ini CD itu tidak pernah dikembalikan, bahkan sampai rental videonya bangkrut dan berubah jadi restoran. Setelah hari itu aku banyak lupa dengan apa yang baru terjadi di rumah. Kalau berusaha dipikir, hanya sedikit ingatan yang menyayat hati. Suara tahlil, wajahnya yang terbaring, terlelap dengan kapas yang menutupi hidungnya. Aku mencium keningnya karena Kakakku yang menyuruhku. “Hati-hati ya, jangan sampai air matanya jatuh”, kata seseorang.
Aku berjalan ke dapur entah saat hari ke berapa. Kubuka cabinet dan menemukan satu kardus susu bubuk yang belum dibuka. Aku coba untuk membuatnya sesuai intruksi pada kardus. ‘ga enak’, kataku. Padahal sampai saat ini, susu itu adalah barang belanjaan yang paling kuingat, tapi entah mengapa diriku yang berumur 10 tahun tidak begitu menghargainya. Mungkin sampai kadaluwarsa pun susu itu tidak pernah kuhabiskan.
cont.-














